MODUL PEMBAGIAN KAWASAN HUTAN

Posted on Januari 26, 2011

0


  1. Pembagian Hutan


 

 

  1. Pembagian Kawasan Hutan Berdasarkan Blok/Zona/Petak/Anak Petak
  2. Penataan Kawasan Konservasi


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Penataan kawasan konservasi (protected areas) ke dalam zonasi dan blok diperlukan dalam rangka pengelolaan kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara efektif guna memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari. Penataan zonasi dan blok tersebut merupakan upaya penataan ruang untuk optimalisasi fungsi dan peruntukan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem pada setiap bagian kawasan konservasi, serta penerapan dan penegakan ketentuan hukum yang dilaksanakan atas sanksi pelanggaran di setiap zona/blok kawasan konservasi secara tegas dan pasti.

Penataan zonasi dan blok tersebut merupakan prakondisi yang harus diprioritaskan dalam kegiatan pemantapan kawasan konservasi, sebelum kawasan tersebut dapat dikembangkan, dimanfaatkan, dan dikelola secara efektif sesuai fungsinya, yaitu untuk kepentingan konservasi, hidrologi, ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, rekreasi dan wisata alam, serta menunjang budidaya dan pemanfaatan plasma nutfah. Oleh karena itu, pada kawasan konservasi yang belum dilengkapi dengan penataan zonasi dan blok sebaiknya tidak dilakukan pengembangan dan pemanfaatan sesuai fungsinya kecuali pengelolaan untuk kepentingan perlindungan dan pengamanan saja.

Secara skematis pelaksanaan kegiatan penataan zonasi/blok kawasan konservasi melalui bantuan interpretasi photo udara/citra satelit dan analisis informasi geografis dapat disajikan dalam gambar berikut :


 




 


 


 


 

 


 



 


 

 

 

Skematis penataan zonasi kawasan konservasi dengan bantuan informasi geografis

 

 

Penataan zonasi dan blok pada kawasan konservasi seharusnya diatur dalam ketentuan peraturan perundangan. Namun dari ketentuan peraturan perundangan yang ada antara lain UU No. 5 Tahun 1990, UU No 41 Tahun 1999 maupun PP No. 68 Tahun 1998, baru sebatas mengatur penataan zonasi pada kawasan taman nasional. Penetapan zonasi dan blok pada kawasan konservasi ditentukan berdasarkan :

  1. potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem,
  2. tingkat interaksi dengan masyarakat setempat, dan
  3. kepentingan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang harus dilakukan.

Penetapan zonasi pada kawasan konservasi dilakukan secara variatif sesuai dengan kebutuhan pengelolaan kawasan konservasi serta pembagian zonasi atau blok pada kawasan konservasi tidak selalu sama dan lengkap pada setiap kawasan konservasi.

Penentuan zonasi atau blok kawasan konservasi tersebut tidak bersifat permanen serta dapat disesuaikan dengan perubahan dan perkembangan kebutuhan pengelolaan kawasan konservasi, kondisi potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem, dan kepentingan interaksi dengan masyarakat. Dengan demikian minimal tiga sampai lima tahun sekali perlu ada kajian/review terhadap perkembangan dan efektivitas penataan zonasi atau blok pada kawasan konservasi.

  1. Pengertian
  2. Penataan zonasi dan blok kawasan konservasi adalah suatu proses pengaturan atau perancangan ruang dalam suatu kawasan konservasi menjadi zona-zona atau blok-blok yang mencakup tahap persiapan, perancangan, konsultasi dan komunikasi publik, penilaian, pengesahan serta pemberian batas di lapangan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  3. Kawasan konservasi akan mencakup : kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa), kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman wisata alam, dan taman hutan raya), dan taman buru. Untuk kegiatan penataan zonasi dan blok umumnya tidak dilakukan pada kawasan cagar alam, dan istilah penataan zonasi hanya untuk digunakan pada penataan kawasan taman nasional, serta penataan blok digunakan pada penataan kawasan : suaka margasatwa, wisata alam, taman hutan raya, dan taman buru.
  4. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam baik daratan maupun perairan yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yaitu dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
  5. Zonasi taman nasional adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  6. Zona taman nasional adalah wilayah di dalam kawasan taman nasional yang dibedakan menurut fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  7. Zona inti adalah bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati.
  8. Zona rimba, untuk wilayah perairan laut disebut zona perlindungan bahari adalah bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan.
  9. Zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya, yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya.
  10. Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.
  11. Zona rehabilitasi adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan.
  12. Zona religi, budaya dan sejarah adalah bagian dari taman nasional yang di dalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya atau sejarah.
  13. Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

     

  14. Prinsip Dasar Penataan Zonasi/Blok

Prinsip dasar penataan zona/blok pada kawasan konservasi umumnya mengacu kepada kepentingan untuk :

  1. Mengakomodir kepentingan konservasi ekosistem dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di dalam dan sekitar kawasan konservasi sebagai penunjang sistem penyangga kehidupan;
  2. Merupakan dasar dalam penyusunan rencana tata ruang kawasan konservasi dan rencana-rencana lain dalam rangka meningkatkan pengelolaan kawasan konservasi.

     

  1. Jenis, Deskripsi, Fungsi, Kriteria dan Kegiatan Zona/Blok
  2. Zona/blok inti

Zona/blok inti merupakan bagian kawasan konservasi yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, diperuntukan untuk perlindungan hidupan liar (flora dan fauna) terpenting/kunci berikut habitatnya dan umumnya berupa habitat/hutan primer. Zona ini merupakan bagian kawasan yang berada relatif jauh dari batas kawasan dengan akses yang minimum.

Fungsi zona/blok inti adalah untuk perlindungan flora dan fauna khas beserta habitat taman nasional yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, ekosistem khas, dan merupakan contoh perwakilan ekosistem. Pada zona ini tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, dan perubahan yang terjadi agar dijaga dan berjalan secara alami, serta digunakan untuk kepentingan penelitian, pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan alam, serta perlindungan sistem penyangga kehidupan seperti perlindungan dan pengaturan tata air dari sungai-sungai yang berhulu di kawasan taman nasional.

Untuk menentukan zona inti ditetapkan kriteria zona/blok inti, yang mencakup :

  1. Bagian taman nasional yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya;
  2. Mewakili formasi ekosistem tertentu yang merupakan ciri khas ekosistem dalam kawasan taman nasional yang kondisi fisiknya masih asli dan belum diganggu oleh manusia; 
  3. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia;
  4. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelangsungan hidup jenis-jenis tertentu dan bentuk tertentu agar menunjang pengelolaan yang efektif dan menjamin berlangsungnya proses ekologis secara alami;
  5. Mempunyai ciri khas potensinya dan dapat merupakan contoh yang keberadaannya memerlukan upaya konservasi;
  6. Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya yang langka yang keberadaannya terancam punah.
  7. Merupakan habitat satwa dan atau tumbuhan tertentu yang prioritas dan khas/endemik;
  8. Merupakan tempat aktivitas satwa yang dalam siklus hidupnya tidak boleh diganggu (peka) misalnya tempat berbiak, bersarang.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok inti meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya;
  3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan atau penunjang budidaya;
  4. Dapat dibangun sarana dan prasarana terbatas untuk kegiatan penelitian.

     

  1. Zona/blok rimba

Zona/blok rimba merupakan bagian kawasan konservasi daratan yang berfungsi sebagai penyangga zona/blok inti serta di dalamnya hanya dapat dilakukan kegiatan sebagaimana pada zona/blok inti. Namun demikian zona/blok rimba dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian, pendidikan, dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, serta kegiatan wisata alam terbatas.

Fungsi zona/blok rimba adalah untuk kegiatan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan fungsi penelitian, pendidikan konservasi, wisata terbatas dan menunjang budidaya serta mendukung fungsi zona inti.

Kriteria Zona/Blok rimba:

  1. Kawasan yang ditetapkan mampu untuk melindungi dan mendukung upaya perkembang-biakan dari jenis satwa yang dilakukan upaya konservasi;
  2. Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga fungsi zona inti dan zona pemanfaatan;
  3. Merupakan habitat atau daerah jelajah satwa liar; dan atau merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa tertentu dan atau satwa migran.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok rimba meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya;
  3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pengelolaan, pemanfaatan, pendidikan, wisata alam terbatas dan kegiatan-kegiatan lain yang menunjang budidaya;
  4. Pembinaan habitat dan populasi
    dalam rangka meningkatkan keberadaan populasi hidupan liar;
  5. Pemanfaatan secara terbatas untuk menunjang kegiatan pendidikan dan penelitian, seperti pengambilan sampel sesuai dengen peraturan yang berlaku;
  6. Pembangunan sarana dan prasarana sepanjang untuk kepentingan penelitian, pendidikan, dan wisata terbatas.

     

  1. Zona/blok pemanfaatan

Zona/blok pemanfaatan merupakan bagian kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk keperluan pariwisata alam dan rekreasi, penelitian, dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, pendidikan dan atau kegiatan penunjang budidaya.

Fungsi zona/blok pemanfaatan adalah untuk pengembangan pariwisata alam, pusat fasilitas dan kegiatan rekreasi, pendidikan konservasi alam dan lingkungan hidup, serta menunjang peran serta aktif masyarakat setempat dalam pengembangan jasa pariwisata alam dan pengembangan ekonomi daerah.

Kriteria Zona/Blok pemanfaatan :

  1. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu serta formasi geologinya yang indah dan unik;
  2. Mempunyai luasan yang cukup untuk menjamin kelestarian potensi dan daya tarik untuk dimanfaatkan bagi pariwisata dan rekreasi alam;
  3. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam, pendidikan konservasi;
  4. Merupakan wilayah yang memungkinkan dibangunnya sarana prasarana bagi kegiatan rekreasi, pendidikan lingkungan serta menunjang peranserta aktif masyarakat setempat dalam pengembangan jasa pariwisata alam dan pengembangan ekonomi daerah;
  5. Tidak berbatasan langsung dengan zona inti.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok pemanfaatan meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pariwisata alam, pemanfaatan jasa lingkungan, pendidikan, dan penunjang budidaya;
  3. Pembinaan habitat dan populasi, baik untuk meningkatkan keberadaan populasi hidupan liar, ataupun pengembangan sebagai objek wisata alam;
  4. Pengusahaan wisata alam dapat diberikan kepada pihak-pihak sebagaimana diatur dalam peraturan perundangan yang terkait dengan pengusahaan pariwisata alam di kawasan taman nasional;
  5. Tempat berlangsungnya kegiatan penangkaran jenis untuk menunjang kegiatan pengelolaan kawasan, bukan untuk tujuan komersial;
  6. Pembangunan sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian, pendidikan, dan wisata alam, dimana dalam pembangunannya harus memperhatikan kondisi bentang alam dan gaya arsitektur daerah setempat;
  7. Monitoring dan pengendalian dampak biofisik dan sosial ekonomi budaya, pariwisata dan rekreasi alam.
  1. Zona/blok tradisional

Zona/blok tradisional merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya terdapat sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara tradisional untuk memenuhi/mengakomodasi kebutuhan dasar sehari-hari bagi masyarakat/ penduduk setempat secara turun menurun menggantungkan hidupnya pada sumberdaya alam hayati dan ekosistem, serta untuk mengakomodir kepentingan hubungan tradisional antara masyarakat setempat dengan sumberdaya alam.

Fungsi zona/blok tradisional adalah untuk pengembangan dan pemanfaatan tradisional masyarakat adat dan atau masyarakat setempat dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan kepentingan budaya yang tidak bersifat komersial serta mendukung kelestarian ekosistem taman nasional.

Kriteria Zona/Blok tradisional:

  1. Potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang ada telah dimanfaatkan secara turun menurun oleh masyarakat adat/setempat secara tradisional guna memenuhi kebutuhan hidup;
  2. Mempunyai ketersediaan sumber daya alam hayati yang dapat mendukung pemanfaatan dan kelestarian sumber daya alam hayati;
  3. Memiliki potensi hasil hutan non kayu yang dapat dimanfaatkan secara tradisional berdasarkan pengaturan bersama antara pengelola taman nasional dengan masyarakat sekitar hutan secara lestari.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok tradisional meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Pembinaan habitat dan populasi untuk meningkatkan dan menjaga kesinambungan keberadaan populasi hidupan liar;
  3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pendidikan dan pemanfaatan potensi sumberdaya alam oleh masyarakat adat/masyarakat setempat yang secara turun menurun telah dilakukan secara tradisional untuk jangka waktu puluhan tahun lalu;
  4. Pemanfaatan dilakukan berdasarkan pengaturan pemanfaatan secara tradisional yang disepakati antara pengelola taman nasional dengan masyarakat;
  5. Pemanfaatan plasma nutfah sebagai sumber bibit kegiatan penangkaran jenis untuk menunjang ekonomi masyarakat setempat. Kegiatan pengembangan budidaya oleh masyarakat setempat dilakukan di luar kawasan konservasi.

     

  1. Zona/blok khusus

Zona/blok khusus
merupakan
bagian kawasan konservasi yang di dalamnya digunakan untuk mengakomodir kepentingan strategis terbatas.

Fungsi zona/blok khusus untuk mengakomodir kepentingan strategis terbatas seperti pembangunan museum hidup, menara repeater, tiang jaringan listrik, instalasi PAM dan lain-lain.

Kriteria Zona/Blok khusus:

  1. Terdapat areal yang dapat digunakan untuk kepentingan strategis;
  2. Lokasi tidak berdampingan dengan zona inti;
  3. Pembangunan dan pemanfaatannya tidak mengganggu dan merusak landscape/bentang alam dan panorama alam;
  4. Kawasan yang digunakan tidak akan menimbulkan dampak negatif untuk kepentingan konservasi.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok khusus meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Kegiatan pembangunan dan pemeliharaan rutin sarana dan peralatan.
  1. Zona/blok rehabilitasi atau restorasi

Zona/blok rehabilitasi atau restorasi merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya dapat dilakukan kegiatan pemulihan kembali atas kerusakan kawasan dan potensi sumberdaya alam, agar dapat berfungsi atau mendekati fungsi seperti sebelum mengalami kerusakan.

Fungsi zona/blok rehabilitasi adalah untuk mengembalikan ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alaminya.

Kriteria Zona/Blok rehabilitasi:

a.     Kawasan telah rusak akibat perbuatan manusia maupun bencana alam.

b.     Kawasan yang telah mengalami perubahan dan proses pemulihannya memerlukan waktu yang cukup lama.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok rehabilitasi atau restorasi meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Kegiatan rehabilitasi atau restorasi untuk pemulihan fungsi kawasan atau ekosistem yang rusak.
  1. Zona/blok budaya dan sejarah

Zona/blok budaya dan sejarah merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya terdapat tempat dan atau situs peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-nilai hasil karya budaya yang bernilai sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan religius.

Fungsi zona/blok budaya dan sejarah adalah untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-nilai hasil karya budaya yang bernilai sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan religius.

Kriteria Zona/Blok budaya dan sejarah:

  1. Adanya situs budaya dan sejarah (purbakala) baik yang dilindungi undang-undang, maupun tidak dilindungi undang-undang;
  2. Adanya lokasi pura, candi atau tempat peribadatan dan atau lokasi yang dikeramatkan dan dipergunakan untuk upacara keagamaan/religius oleh masyarakat.

Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok budaya dan sejarah meliputi:

  1. Perlindungan dan pengamanan;
  2. Pemanfaatan kawasan dan potensinya dalam bentuk kegiatan penelitian, pendidikan, jasa wisata alam;
  3. Pemeliharaan situs budaya dan sejarah, serta keberlangsungan upacara-upacara ritual keagamaan/adat yang ada.

Dalam penataan zona/blok pada kawasan konservasi tidak harus semua jenis zona/blok harus ada, tergantung kepada potensi kawasan, kondisi kawasan dan keterkaitan sosial ekonomi budaya masyarakat sekitar kawasan konservasi.

  1. Penataan Kawasan Lindung

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Kriteria hutan lindung, dengan memenuhi salah satu syarat :

  1. Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas hujan

setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skore) 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih;

  1. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% (empat puluh per seratus) atau lebih;
  2. Kawasan hutan yang berada pada ketinggian 2000 (dua ribu) meter atau lebih di atas permukaan laut;
  3. Kawasan hutan yang mempunyai tanah sangat peka terhadap erosi dengan lereng lapangan lebih dari 15% (lima belas per seratus);
  4. Kawasan hutan yang merupakan daerah resapan air;
  5. Kawasan hutan yang merupakan daerah perlindungan pantai.

Untuk mengoptimalkan pengelolaannya, maka hutan lindung dibagi dalam beberapa blok. Pembagian hutan ke dalam blok-blok pada hutan lindung, terdiri dari :

  1. blok perlindungan;
  2. blok pemanfaatan; dan
  3. blok lainnya.


 

 

 

 

Di dalam blok perlindungan dapat dilakukan pendayagunaan potensi kawasan antara lain untuk kegiatan pemanfaatan air, pemuliaan tanaman, pengayaan tanaman (enrichment), penangkaran, penyediaan plasma nutfah, wisata alam, penelitian dan pendidikan. Namun, pendayagunaannya tidak boleh sampai mengurangi luas kawasan serta merubah fungsi kawasan.

Pada blok pemanfaatan kawasan hutan lindung dapat dilakukan kegiatan pemanfaatan secara tradisional berupa hasil hutan non kayu dan jasa lingkungan. Pada blok lainnya dapat dibangun sarana dan prasarana pengelolaan, penelitian, dan wisata alam secara terbatas. Di dalam kawasan hutan lindung tidak boleh dilakukan kegiatan yang dapat merubah bentang alam.

Di dalam zona lainnya pada hutan lindung dibuat sesuai kebutuhan. Namun pemanfaatan kawasan dan potensinya tidak diperkenankan sampai mengurangi luas dan merubah fungsi kawasan serta merubah bentang alam.

  1. Penataan Kawasan Produksi

Pembagian hutan ke dalam unit-unit pengelolaan yang lebih kecil merupakan langkah awal kegiatan pengusahaan hutan pada hutan produksi. Untuk mengoptimalkan pengelolaan, maka kawasan hutan produksi dibagi dalam blok pengelolaan.

 

 

Blok pengelolaan tersebut dibagi menjadi petak-petak pengelolaan yang terkait dengan pemanfaatan hasil hutan terutama kayu. Petak pengelolaan ini merupakan unit pengelolaan terkecil pada hutan produksi. Pada petak pengelolaan inilah seluruh kegiatan pengelolaan dilaksanakan. Kegiatan pengelolaan hutan pada hutan produksi secara umum meliputi kegiatan (1) pembagian blok dan petak pengeloaan, (2) pembangunan sarana pengelolaan, (3) pembukaan wilayah hutan, (3) penentuan potensi tegakan/inventarisasi tegakan, (4) pemanfaatan hasil hutan, (5) penanaman dan pengayaan tanaman.

Tujuan dari pembagian hutan tersebut adalah :

  1. Memberikan kepastian wilayah kerja;
  2. Memudahkan inventarisasi sumber daya dan jenis kegiatan;
  3. Memudahkan dalam hal perencanaan organisasi dan manajemen hutan.

Pembagian hutan tersebut merupakan penjabaran dari kegiatan penataan hutan yang bertujuan untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang potensi dan keadaan hutan, serta menentukan cara pengaturan pemanfaatan dan pembinaan hutan untuk menegakkan asas kelestarian yang optimal. Melalui pembagian hutan suatu kelompok hutan dapat diatur pemungutan hasilnya dengan tidak melampaui daya produksi hutan sehingga kesinambungan produksi dapat terjamin.

Suatu kesatuan hutan dapat dibagi ke dalam satu satuan kerja yang selanjutnya satu satuan kerja tersebut dibagi ke dalam blok-blok tata hutan yang merupakan kesatuan-kesatuan yang terdiri dari petak-petak kerja.

Dalam pembagian hutan terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah lokasi dan penyebaran hutan, lawas dan ciri dari pekerjaan, kemampuan pengawasan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, wilayah pemasaran, topografi, fasilitas angkutan, karakteristik dan keperluan inventarisasi. Dalam hubungannya dengan pembagian hutan Davis dan Johnson (1987) dalam Suhendang (1997) merinci 3 macam kegiatan yang penting yang berhubungan dengan preskripsi tipe lahan atau hutan yaitu :

  1. Klasifikasi lahan yang melukiskan tipe lahan berdasarkan lokasi, ukuran kayu, jenis pohon, tanah, kemiringan dan sifat-sifat lainnya.
  2. Penjadwalan aktifitas pengelolaan hutan yang menggambarkan tata waktu dan

    metode kerja yang diterapkan terhadap tegakan.

  3. Proyeksi terhadap pertumbuhan dan hasil.

Keputusan Menteri Kehutanan No. 200/Kpts-II/1991 tentang Pedoman Pembentukan Kesatuan Pengusahaan Hutan Produksi yang disingkat KPHP menyatakan bahwa KPHP merupakan suatu kesatuan terkecil dari kawasan hutan yang dikelola berdasarkan azas kelestarian dan azas perusahaan agar kegiatan pengusahaan hutan dapat diselenggarakan secara berkelanjutan. Batas areal KPHP sedapat mungkin menggunakan batas-batas alam yang disepakati oleh areal KPHP tetangga, batas HPH dan HPT serta HL.

Pengertian Kesatuan Pengusahaan Hutan Produksi (KPHP) adalah merupakan suatu kesatuan terkecil dari kawasan hutan produksi yang dikelola berdasarkan azas kelestarian dan azas perusahaan agar kegiatan-kegiatan pengusahaan hutan dapat terselenggara secara berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tujuan pembentukan KPHP adalah tertatanya kawasan hutan produksi dalam unit-unit kelestarian usaha yang rasional dan menguntungkan sehingga dapat menjamin tersedianya hasil hutan dan manfaat lainnya bagi pembangunan nasional, pembangunan daerah, masyarakat, khususnya yang berada di dalam dan di sekitar hutan secara maju dan berkelanjutan.

Berdasarkan kegiatan penataan hutan, maka disusun Rencana Karya yang meliputi penanaman hutan, pemeliharaan hutan, pemungutan hasil hutan, dan pemasaran hasil hutan.

Komposisi tegakan di dalam KPHP dapat berupa hutan alam, hutan tanaman, atau hutan campuran antara hutan alam dan hutan tanaman dengan satu atau beberapa sistem silvikultur.

Kriteria pembentukan KPHP

  1. Kawasan hutan yg dapat dibentuk sebagai KPHP adalah kawasan hutan produksi.
  2. Letak dan luas sebuah KPHP ditentukan dengan memperhatikan batas-batas DAS, batas-batas administratif pemerintahan umum, batas alam dan atau batas buatan serta rencana pengembangan wilayah.

KPHP ditentukan berdasarkan:

  1. Kondisi sumberdaya alam;
  2. Intensitas pengusahaan hutan yang dilakukan;
  3. Kelas perusahaan dan sistem silvikultur yang dipakai;
  4. Keadaan sosial ekonomi masyarakat sekitar hutan.

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar Pembagian Hutan

 

 

 

  1. Rangkuman

 

  1. Pembagian Kawasan Hutan Berdasarkan Blok/Zona/Petak/Anak Petak
  2. Penataan Kawasan Konservasi

Penataan kawasan konservasi (protected areas) ke dalam zonasi dan blok diperlukan dalam rangka pengelolaan kawasan dan potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara efektif guna memperoleh manfaat yang lebih optimal dan lestari.

Penataan zonasi dan blok tersebut merupakan prakondisi yang harus diprioritaskan dalam kegiatan pemantapan kawasan konservasi, sebelum kawasan tersebut dapat dikembangkan, dimanfaatkan, dan dikelola secara efektif sesuai fungsinya, yaitu untuk kepentingan konservasi, hidrologi, ilmu pengetahuan, penelitian, pendidikan, rekreasi dan wisata alam, serta menunjang budidaya dan pemanfaatan plasma nutfah.

Penetapan zonasi dan blok pada kawasan konservasi ditentukan berdasarkan :

  1. potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem,
  2. tingkat interaksi dengan masyarakat setempat, dan
  3. kepentingan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang harus dilakukan.

 

  1. Pengertian
  2. Penataan zonasi dan blok kawasan konservasi adalah suatu proses pengaturan atau perancangan ruang dalam suatu kawasan konservasi menjadi zona-zona atau blok-blok yang mencakup tahap persiapan, perancangan, konsultasi dan komunikasi publik, penilaian, pengesahan serta pemberian batas di lapangan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  3. Kawasan konservasi akan mencakup : kawasan suaka alam (cagar alam dan suaka margasatwa), kawasan pelestarian alam (taman nasional, taman wisata alam, dan taman hutan raya), dan taman buru.
  4. Taman nasional adalah kawasan pelestarian alam baik daratan maupun perairan yang mempunyai ekosistem asli, dikelola dengan sistem zonasi yaitu dimanfaatkan untuk tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi.
  5. Zonasi taman nasional adalah suatu proses pengaturan ruang dalam taman nasional menjadi zona-zona, yang mencakup kegiatan tahap persiapan, pengumpulan dan analisis data, penyusunan draft rancangan zonasi, konsultasi publik, perancangan, tata batas dan penetapan, dengan mempertimbangkan kajian-kajian dari aspek-aspek ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  6. Zona taman nasional adalah wilayah di dalam kawasan taman nasional yang dibedakan menurut fungsi dan kondisi ekologis, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat.
  7. Zona inti adalah bagian taman nasional yang mempunyai kondisi alam baik biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia yang mutlak dilindungi, berfungsi untuk perlindungan keterwakilan keanekaragaman hayati.
  8. Zona rimba, untuk wilayah perairan laut disebut zona perlindungan bahari adalah bagian taman nasional yang karena letak, kondisi dan potensinya mampu mendukung kepentingan pelestarian pada zona inti dan zona pemanfaatan.
  9. Zona pemanfaatan adalah bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya, yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam dan kondisi/jasa lingkungan lainnya.
  10. Zona tradisional adalah bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam.
  11. Zona rehabilitasi adalah bagian dari taman nasional yang karena mengalami kerusakan, sehingga perlu dilakukan kegiatan pemulihan komunitas hayati dan ekosistemnya yang mengalami kerusakan.
  12. Zona religi, budaya dan sejarah adalah bagian dari taman nasional yang di dalamnya terdapat situs religi, peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk kegiatan keagamaan, perlindungan nilai-nilai budaya atau sejarah.
  13. Zona khusus adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan telah terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

 

  1. Jenis, Deskripsi, Fungsi, Kriteria dan Kegiatan Zona/Blok
  2. Zona/blok inti

Zona/blok inti merupakan bagian kawasan konservasi yang mutlak dilindungi dan tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, diperuntukan untuk perlindungan hidupan liar (flora dan fauna) terpenting/kunci berikut habitatnya dan umumnya berupa habitat/hutan primer.

Fungsi zona/blok inti adalah untuk perlindungan flora dan fauna khas beserta habitat taman nasional yang peka terhadap gangguan dan perubahan, sumber plasma nutfah dari jenis tumbuhan dan satwa liar, dengan keanekaragaman hayati yang tinggi, ekosistem khas, dan merupakan contoh perwakilan ekosistem.

  1. Zona/blok rimba

Zona/blok rimba merupakan bagian kawasan konservasi daratan yang berfungsi sebagai penyangga zona/blok inti serta di dalamnya hanya dapat dilakukan kegiatan sebagaimana pada zona/blok inti.

Fungsi zona/blok rimba adalah untuk kegiatan perlindungan, pelestarian dan pemanfaatan sumberdaya alam dan lingkungan alam bagi kepentingan fungsi penelitian, pendidikan konservasi, wisata terbatas dan menunjang budidaya serta mendukung fungsi zona inti.

  1. Zona/blok pemanfaatan

Zona/blok pemanfaatan merupakan bagian kawasan konservasi yang dimanfaatkan untuk keperluan pariwisata alam dan rekreasi, penelitian, dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, pendidikan dan atau kegiatan penunjang budidaya.

Fungsi zona/blok pemanfaatan adalah untuk pengembangan pariwisata alam, pusat fasilitas dan kegiatan rekreasi, pendidikan konservasi alam dan lingkungan hidup, serta menunjang peran serta aktif masyarakat setempat dalam pengembangan jasa pariwisata alam dan pengembangan ekonomi daerah.

  1. Zona/blok tradisional

Zona/blok tradisional merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya terdapat sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara tradisional untuk memenuhi/mengakomodasi kebutuhan dasar sehari-hari bagi masyarakat/ penduduk setempat secara turun menurun menggantungkan hidupnya pada sumberdaya alam hayati dan ekosistem, serta untuk mengakomodir kepentingan hubungan tradisional antara masyarakat setempat dengan sumberdaya alam.

Fungsi zona/blok tradisional adalah untuk pengembangan dan pemanfaatan tradisional masyarakat adat dan atau masyarakat setempat dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar dan kepentingan budaya yang tidak bersifat komersial serta mendukung kelestarian ekosistem taman nasional.

  1. Zona/blok khusus

Zona/blok khusus
merupakan
bagian kawasan konservasi yang di dalamnya digunakan untuk mengakomodir kepentingan strategis terbatas.

Fungsi zona/blok khusus untuk mengakomodir kepentingan strategis terbatas seperti pembangunan museum hidup, menara repeater, tiang jaringan listrik, instalasi PAM dan lain-lain.

  1. Zona/blok rehabilitasi atau restorasi

Zona/blok rehabilitasi atau restorasi merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya dapat dilakukan kegiatan pemulihan kembali atas kerusakan kawasan dan potensi sumberdaya alam, agar dapat berfungsi atau mendekati fungsi seperti sebelum mengalami kerusakan.

Fungsi zona/blok rehabilitasi adalah untuk mengembalikan ekosistem kawasan yang rusak menjadi atau mendekati kondisi ekosistem alaminya.

  1. Zona/blok budaya dan sejarah

Zona/blok budaya dan sejarah merupakan bagian kawasan konservasi yang di dalamnya terdapat tempat dan atau situs peninggalan warisan budaya dan atau sejarah yang dimanfaatkan untuk memperlihatkan dan melindungi nilai-nilai hasil karya budaya yang bernilai sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan religius.

  1. Penataan Kawasan Lindung

Hutan lindung adalah kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah.

Kriteria hutan lindung, dengan memenuhi salah satu syarat :

  1. Kawasan hutan dengan faktor-faktor kelas lereng, jenis tanah dan intensitas hujan

setelah masing-masing dikalikan dengan angka penimbang mempunyai jumlah nilai (skore) 175 (seratus tujuh puluh lima) atau lebih;

  1. Kawasan hutan yang mempunyai lereng lapangan 40% (empat puluh per seratus) atau lebih;
  2. Kawasan hutan yang berada pada ketinggian 2000 (dua ribu) meter atau lebih di atas permukaan laut;
  3. Kawasan hutan yang mempunyai tanah sangat peka terhadap erosi dengan lereng lapangan lebih dari 15% (lima belas per seratus);
  4. Kawasan hutan yang merupakan daerah resapan air;
  5. Kawasan hutan yang merupakan daerah perlindungan pantai.
  1. Penataan Kawasan Produksi

Untuk mengoptimalkan pengelolaan, maka kawasan hutan produksi dibagi dalam blok pengelolaan. Blok pengelolaan tersebut dibagi menjadi petak-petak pengelolaan yang terkait dengan pemanfaatan hasil hutan terutama kayu. Petak pengelolaan ini merupakan unit pengelolaan terkecil pada hutan produksi. Pada petak pengelolaan inilah seluruh kegiatan pengelolaan dilaksanakan.

Tujuan pembagian hutan produksi adalah :

  1. Memberikan kepastian wilayah kerja;
  2. Memudahkan inventarisasi sumber daya dan jenis kegiatan;
  3. Memudahkan dalam hal perencanaan organisasi dan manajemen hutan.

Melalui pembagian hutan, suatu kelompok hutan dapat diatur pemungutan hasilnya dengan tidak melampaui daya produksi hutan sehingga kesinambungan produksi dapat terjamin

Dalam pembagian hutan terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan, antara lain lokasi dan penyebaran hutan, lawas dan ciri dari pekerjaan, kemampuan pengawasan dan tanggung jawab terhadap pekerjaan, wilayah pemasaran, topografi, fasilitas angkutan, karakteristik dan keperluan inventarisasi.

 

Pengertian Kesatuan Pengusahaan Hutan Produksi (KPHP) adalah merupakan suatu kesatuan terkecil dari kawasan hutan produksi yang dikelola berdasarkan azas kelestarian dan azas perusahaan agar kegiatan-kegiatan pengusahaan hutan dapat terselenggara secara berkelanjutan bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Tujuan pembentukan KPHP adalah tertatanya kawasan hutan produksi dalam unit-unit kelestarian usaha yang rasional dan menguntungkan sehingga dapat menjamin tersedianya hasil hutan dan manfaat lainnya bagi pembangunan nasional, pembangunan daerah, masyarakat, khususnya yang berada di dalam dan di sekitar hutan secara maju dan berkelanjutan.

 

  1. Tugas
    1. Buatlah kelompok kecil dengan jumlah 5 – 6 siswa !
    2. Carilah informasi tentang pembagian kawasan hutan ke dalam blok/zona, petak maupun anak petak !
    3. Diskusikan dalam kelompok kecil tersebut tentang pembagian kawasan hutan ke dalam blok/zona, petak maupun anak petak !
    4. Buatlah laporan hasil diskusi !

     

  2. Tes Formatif

Berilah tanda silang (X) pada huruf a, b, c, dan d yang merupakan jawaban paling tepat !

  1. Penataan zonasi dan blok merupakan prakondisi yang harus diprioritaskan dalam kegiatan pemantapan kawasan konservasi, agar kawasan tersebut dapat dikembangkan, dimanfaatkan, dan dikelola secara efektif sesuai fungsinya. Di bawah ini adalah fungsi kawasan konservasi, kecuali ………….
    1. Kepentingan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pendidikan
    2. Untuk rekreasi dan wisata alam
    3. Kepentingan konservasi dan hidrologi
    4. Untuk pemanfaatan kayu
  2. Berikut ini adalah faktor yang dipertimbangkan dalam penetapan zonasi dan blok pada kawasan konservasi, kecuali ………….
    1. Kondisi iklim
    2. Potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistem
    3. Tingkat interaksi dengan masyarakat setempat
    4. Kepentingan efektivitas pengelolaan kawasan konservasi yang harus dilakukan
  3. Istilah penataan zonasi digunakan pada penataan kawasan ………….
    1. Suaka margasatwa
    2. Taman wisata alam
    3. Taman nasional
    4. Taman buru
  4. Berikut ini adalah kegiatan pada penataan taman nasional :
    1. Tahap persiapan
    2. Konsultasi publik
    3. Perancangan
    4. Penyusunan draft rancangan zonasi
    5. Pengumpulan dan analisis data
    6. Tata batas dan penetapan

Urutan kegiatan yang tepat adalah ………….

  1. 1-2-3-4-5-6
  2. 1-3-4-2-5-6
  3. 1-4-5-2-3-6
  4. 1-5-4-2-3-6
  1. Zona yang mempunyai kondisi alam baik biota atau fisiknya masih asli dan tidak atau belum diganggu oleh manusia adalah ………….
    1. Zona rimba
    2. Zona inti
    3. Zona rehabilitasi
    4. Zona khusus
  2. Bagian taman nasional yang letak, kondisi dan potensi alamnya, yang terutama dimanfaatkan untuk kepentingan pariwisata alam adalah ………….
    1. Zona tradisional
    2. Zona khusus
    3. Zona pemanfaatan
    4. Zona religi
  3. Bagian dari taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahan mempunyai ketergantungan dengan sumber daya alam adalah ………….
    1. Zona tradisional
    2. Zona khusus
    3. Zona pemanfaatan
    4. Zona religi
  4. Di bawah ini kriteria untuk menentukan zona inti, kecuali ………….
    1. Bagian taman nasional yang mempunyai keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya
    2. Mempunyai kondisi alam, baik biota maupun fisiknya yang masih asli dan tidak atau belum diganggu manusia
    3. Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga fungsi zona inti dan zona pemanfaatan;
    4. Mempunyai komunitas tumbuhan dan atau satwa liar beserta ekosistemnya yang langka yang keberadaannya terancam punah
  5. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam zona/blok inti, kecuali ………….
    1. Tempat berlangsungnya kegiatan penangkaran jenis untuk menunjang kegiatan pengelolaan kawasan,
    2. Inventarisasi dan monitoring sumberdaya alam hayati dengan ekosistemnya
    3. Penelitian dan pengembangan yang menunjang pemanfaatan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan atau penunjang budidaya
    4. Dapat dibangun sarana dan prasarana terbatas untuk kegiatan penelitian.
  6. Di bawah ini merupakan kriteria zona/blok rimba, kecuali ………….
    1. Kondisi lingkungan di sekitarnya mendukung upaya pengembangan pariwisata alam
    2. Kawasan yang ditetapkan mampu untuk melindungi dan mendukung upaya perkembang-biakan dari jenis satwa yang dilakukan upaya konservasi
    3. Memiliki ekosistem dan atau keanekaragaman jenis yang mampu menyangga fungsi zona inti dan zona pemanfaatan
    4. Merupakan habitat atau daerah jelajah satwa liar dan atau merupakan tempat dan kehidupan bagi jenis satwa tertentu dan atau satwa migran
  7. Mempunyai daya tarik alam berupa tumbuhan, satwa atau berupa formasi ekosistem tertentu dan memiliki kondisi lingkungan di sekitarnya yang mendukung upaya pengembangan pariwisata alam dan tidak berbatasan langsung dengan zona inti adalah kriteria ………….
    1. Zona inti
    2. Zona rimba
    3. Zona pemanfaatan
    4. Zona tradisional
  8. Bagian kawasan konservasi yang di dalamnya terdapat sumberdaya alam hayati dan ekosistem yang dapat dimanfaatkan dan dikembangkan secara tradisional untuk memenuhi/mengakomodasi kebutuhan dasar sehari-hari bagi masyarakat/ penduduk setempat adalah …………..
    1. Zona pemanfaatan
    2. Zona tradisional
    3. Zona inti
    4. Zona rimba
  9. Di bawah ini adalah kriteria Zona/Blok tradisional, kecuali …………..
    1. Terdapat areal yang dapat digunakan untuk kepentingan strategis
    2. Potensi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya yang ada telah dimanfaatkan secara turun menurun oleh masyarakat adat/setempat secara tradisional guna memenuhi kebutuhan hidup
    3. Mempunyai ketersediaan sumber daya alam hayati yang dapat mendukung pemanfaatan dan kelestarian sumber daya alam hayati
    4. Memiliki potensi hasil hutan non kayu yang dapat dimanfaatkan secara tradisional berdasarkan pengaturan bersama antara pengelola taman nasional dengan masyarakat sekitar hutan secara lestari
  10. Untuk mengakomodir kepentingan strategis terbatas seperti menara repeater, tiang jaringan listrik, dan instalasi PAM adalah fungsi zona ………….
    1. Rimba
    2. Rehabilitasi atau restorasi
    3. Pemanfaatan
    4. Khusus
  11. Bagian kawasan konservasi yang di dalamnya dapat dilakukan kegiatan pemulihan kembali atas kerusakan kawasan dan potensi sumberdaya alam, agar dapat berfungsi atau mendekati fungsi seperti sebelum mengalami kerusakan adalah ………….
    1. Zona budaya dan sejarah
    2. Zona rehabilitasi atau restorasi
    3. Zona pemanfaatan
    4. Zona khusus
  12. Untuk melindungi nilai-nilai hasil karya budaya yang bernilai sejarah, arkeologi maupun keagamaan, sebagai wahana penelitian, pendidikan dan wisata alam sejarah, arkeologi dan religious adalah fungsi ………….
    1. Zona budaya dan sejarah
    2. Zona rehabilitasi atau restorasi
    3. Zona pemanfaatan
    4. Zona khusus
  13. Kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok sebagai perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air, mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan memelihara kesuburan tanah adalah ………….
    1. Hutan konservasi
    2. Hutan lindung
    3. Hutan produksi
    4. Hutan alam
  14. Skore minimal suatu kawasan ditetapkan menjadi hutan lindung adalah …………
    1. 115
    2. 125
    3. 145
    4. 175
  15. Kelerengan lapangan minimal untuk menetapkan suatu kawasan menjadi hutan lindung adalah …………
    1. 30%
    2. 40%
    3. 50%
    4. 60%
  16. Untuk mengoptimalkan pengelolaannya, maka hutan lindung dibagi dalam beberapa blok. Di bawah ini adalah blok-blok pada hutan lindung, kecuali …………
    1. Zona/blok inti
    2. Blok perlindungan
    3. Blok pemanfaatan
    4. Blok lainnya
  17. Berikut ini adalah kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan di dalam blok perlindungan pada hutan lindung, kecuali …………
    1. Pemanfaatan air
    2. Pemuliaan tanaman
    3. Pengayaan tanaman (enrichment)
    4. Pemanfaatan hasil hutan kayu dan nonkayu
  18. Kegiatan-kegiatan ini dapat dilakukan pada hutan lindung, kecuali …………
    1. Kegiatan merubah bentang alam
    2. Pemanfaatan air
    3. Penyediaan plasma nutfah
    4. Wisata alam
  19. Tujuan pembagian hutan pada hutan produksi, kecuali …………
    1. Memberikan kepastian wilayah kerja
    2. Memudahkan perambahan hutan
    3. Memudahkan inventarisasi sumber daya dan jenis kegiatan
    4. Memudahkan dalam hal perencanaan organisasi dan manajemen hutan
  20. Dalam pembagian hutan produksi terdapat beberapa faktor yang harus dipertimbangkan. Berikut ini adalah faktor-faktor yang harus dipertimbangkan, kecuali …………
    1. Lokasi dan penyebaran hutan
    2. Tingkat pendapatan masyarakat
    3. Kemampuan pengawasan terhadap pekerjaan
    4. Topografi
  21. Tujuan pembentukan Kesatuan Pengusahaan Hutan Produksi adalah …………
    1. Tertatanya kawasan hutan produksi dalam unit-unit kelestarian usaha yang rasional dan menguntungkan, menjamin tersedianya hasil hutan secara berkelanjutan
    2. Tertatanya kawasan hutan lindung, konservasi dan produksi dalam unit-unit pengelolaan
    3. Melukiskan tipe lahan berdasarkan lokasi, ukuran kayu, jenis pohon, tanah, kemiringan dan sifat-sifat lainnya
    4. Penjadwalan aktifitas pengelolaan hutan yang menggambarkan tata waktu dan

metode kerja yang diterapkan terhadap tegakan

About these ads
Posted in: Uncategorized